Senin, 09 April 2012

MAKALAH FARMAKOLOGI NON-STEROID ANTI INFLAMATORY DRUGS (NSAID)


MAKALAH FARMAKOLOGI
NON-STEROID ANTI INFLAMATORY DRUGS
(NSAID)
Clip








Disusun oleh :
JUNPRIADI
( 08.01.01.041 )

Dosen pembimbing :
SARY MEISYAYATI, M.Si, Apt



SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI (STIFI) BHAKTI PERTIWI
PALEMBANG 2010/2011

KATA PENGANTAR

          Puji syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah Farmakologi yang berjudul Non-Steroid Anti Inflamatory Drugs (NSAID) dengan baik.
            Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan untuk orang tua yang telah memberikan dukungan secara materil dan nonmaterial. Terima kasih juga untuk pembimbing mata kuliah Farmakologi Ibu Sari Meisyayati, M.Si, Apt yang telah memberikan bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini hingga selesai.
            Makalah Farmakologi mengenai Non-Steroid Anti Inflamatory Drugs (NSAID) ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun akan penulis terima dengan lapang dada.














BAB I
P E N D A H U L U A N

Obat analgesik antipiretik serta obat anti inflamasi nonsteroid (AINS) merupakan salah satu kelompok obat yang banyak diresepkan dan juga digunakan tanpa resep dokter. Obat-obat ini merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, secara kimia. Walaupun demikian obat-obat ini ternyata memiliki banyak persamaan dalam efek terapi maupun efek samping. Prototip obat golongan ini adalah aspirin, karena itu obat golongan ini sering disebut juga sebagai obat mirip aspirin (aspirin-like drugs).
Klasifikasi kimiawi NSAID, tidak banyak manfaat kliniknya, karena ada NSAID dari subgolongan yang sama memiliki sifat yang berbeda, sebaliknya ada obat NSAID yang berbeda subgolongan tetapi memiliki sifat yang serupa.
Kemajuan penelitian dalam dasawarsa terakhir ini memberi penjelasan mengapa kelompok heterogen tersebut memiliki kesamaan efek terapi dan efek samping. Ternyata sebagian besar efek terapi dan efek sampingnya berdasarkan atas penghambatan biosintesis prostaglandin (PG).









BAB II
I S I

A.    Mekanisme kerja NSAID
Mekanisme kerja berhubungan dengan sistem biosintesis PG mulai dilaporkan pada tahun 1971 oleh Vane dkk yang memperlihatkan secara in vitro bahwa dosis rendah aspirin dan indometasin menghambat produksi enzimatik PG.
Golongan obat ini menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi asam arakidonat menjadi PGG2 terganggu. Setiap obat menghambat siklooksigenase dengan kekuatan dan selektivitas yang berbeda. Enzim siklooksigenase terdapat dalam 2 isoform disebut KOKS-1 dan KOKS-2. Kedua isoform tersebut dikode oleh gen yang berbeda dan ekspresinya bersifat unik. Secara garis besar KOKS-1 esensial dalam pemeliharaan berbagai fungsi dalam kondisi normal di berbagai jaringan khususnya ginjal, saluran cerna, dan trombosit. Di mukosa lambung, aktivasi KOKS-1 menghasilkan prostasiklin yang bersifat sitoprotektif.
Aspirin 166 kali lebih kuat menghambat KOKS-1 daripada KOKS-2. Penghambat KOKS-2 dikembangkan dalam mencari penghambat KOKS untuk pengobatan inflamasi dan nyeri yang kurang menyebabkan toksisitas saluran cerna dan pendarahan.
Khusus parasetamol, hambatan biosintesis PG hanya terjadi bila lingkungannya rendah kadar peroksid seperti di hipotalamus. Lokasi inflamasi biasanya mengandung banyak peroksid yang dihasilkan oleh leukosit. Ini menjelaskan mengapa efek anti-inflamasi parasetamol praktis tidak ada. Aspirin sendiri menghambat dengan mengasetilasi gugus aktif serin dari enzim ini. Trombosit sangat rentan terhadap penghambatan ini karena trombosit tidak mampu mengsintesis enzim baru. Sehingga dosis tunggal aspirin 40 mg sehari telah cukup untuk menghambat siklooksigenase trombosit manusia selama masa hidup trombosit, yaitu 8-11 hari. Ini berate bahwa pembentukan trombosit kira-kira 10% sehari. Untuk fungsi pembekuan darah 20% aktivitas siklooksigenase mencukupi.

B.     Efek farmakodinamik
Semua obat NSAID bersifat antipiretik, analgesik, dan anti-inflamasi. Ada perbedaan aktivitas diantara obat-obat tersebut, misalnya: parasetamol bersifat antipiretik dan analgesik tetapi sifat anti-inflamasinya lemah sekali.
Sebagai analgesik, obat NSAID hanya efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah sampai sedang misalnya sakit kepala, mialgia, artralgia dan nyeri lain yang berasal dari integument, juga efektif terhadap nyeri yang berkaitan dengan inflamasi. Efek analgesiknya jauh lebih lemah daripada efek analgesik opiat. Tetapi berbeda dengan opiat, obat NSAID tidak menimbulkan ketagihan dan tidak menimbulkan efek samping sentral yang merugikan.
Sebagai antipiretik, obat NSAID akan menurunkan suhu badan hanya pada keadaan demam. Walaupun kebanyakan obat ini memperlihatkan efek antipireti in vitro, tidak semuanya berguna sebagai antipiretik karena bersifat toksik bila digunakan secara rutin atau terlalu lama. Fenilbutazon dan antireumatik lainnya tidak dibenarkan digunakan sebagai antipiretik atas alas an tersebut.
Kebanyakan obat NSAID, terutama yang baru, lebih dimanfaatkan sebagai anti-inflamasi pada pengobatan kelainan musculoskeletal, seperti arthritis rheumatoid, osteoarthritis dan spondilitas ankilosa. Tetapi harus diingat bahwa obat NSAID ini hanya meringankan gejala nyeri dan inflamasi yang berkaitan dengan penyakitnya secara simtomatik, tidak menghentikan, memperbaiki atau mencegah kerusakan jaringan pada kelainan musculoskeletal.

C.    Efek samping
Selain menimbulkan efek terapi yang sama, obat NSAID juga memiliki efek samping serupa, karena didasari oleh hambatan pada sistem biosintesis PG. Efek samping yang paling sering terjadi adalah induksi tukak lambung atau tukak peptik yang kadang-kadang disertai anemia sekunder akibat perdarahan saluran cerna. Beratnya efek samping ini berbeda pada masing-masing obat. Dua mekanisme terjadinya iritasi lambung ialah: (1) iritasi yang bersifat lokal yang menimbulkan difusi kembali asam lambung ke mukosa dan menyebabkan kerusakan jaringan; dan (2) iritasi atau perdarahan lambung yang bersifat sistemik melalui hambatan biosintesis PGE2 dan PGI2. Kedua PG ini banyak ditemukan di mukosa lambung dengan fungsi menghambat sekresi asam lambung dan merangsang sekresi mucus usus halus yang bersifat sitoprotektif.
Efek samping lain ialah gangguan fungsi trombosit akibat penghambatan biosintesis tromboksan A2 (TXA2) dengan akibat perpanjangan waktu perdarahan. Efek ini telah dimanfaatkan untuk terapi profilaksis tromboemboli.

D.    Penggunaan NSAID
Non-Steroidal Anti Inflammatory Drugs (NSAID) bekerja menghambat enzim cyclooxygenase (enzim pembentuk prostaglandin). NSAID hanya dipakai untuk nyeri inflamasi dan antipiretik akibat produksi prostaglandin. NSAID mempunyai 3 efek yakni: anti-inflamasi, analgesik (untuk nyeri ringan hingga sedang), dan antipiretik. Namun, NSAID tidak bisa digunakan untuk mengatasi nyeri karena angina pectoris karena nyeri disebabkan karena hipoksia dan penumpukan laktat. Penggunaan NSAID sebagai analgesik bersifat simptomatik sehingga jika simptom sudah hilang, pemberiannya harus dihentikan.
Pada keadaan gout arthritis, NSAID berperan untuk mengurangi inflamasinya. Asam urat yang meningkat dan menurun masih dapat menyebabkan inflamasi sehingga menimbulkan nyeri. Asam urat dapat menumpuk di jaringan (biasanya pada jari kaki tampak tofi, bendol- bendol). Penggunaan NSAID masih menimbulkan recruitment sel radang karena tidak menghambat LOX/ leukotrien (chemotoxin). Namun efeknya ini perlu diturunkan untuk mencegah adanya kemotaksis dengan penggunaan kortikosteroid.
NSAID tidak mempengaruhi proses penyakit (ex. kerusakan jaringan muskuloskeletal) dan hanya mencegah simtom peningkatan prostaglandin pada kerusakan jaringan. Jadi, NSAID memblok pembentukan prostaglandin, akan tetapi jaringan tetap rusak. NSAID efeknya bersifat sentral, sehingga tidak menimbulkan adiksi.
Penggunaan NSAID sebagai antipiretik digunakan untuk demam yang patologis (tidak digunakan untuk demam karena peningkatan suhu setelah aktivitas yang berlebih). Demam patologis dirangsang oleh zat pirogen endogen (IL-1) yang mengakibatkan pelepasan prostaglandin di preoptik hipotalamus. Penggunaannya untuk simptomatik juga (ketika panas turun harus dihentikan).
Efek samping NSAID antara lain: Ulcus pepticum (akibat hambatan COX-1 sehingga pada GIT timbul perdarahan), anemia, gagal ginjal (hambatan COX-1 juga menurunkan perfusi ginjal), gangguan penutupan ductus arteriosus botalli (penutupannya membutuhkan prostaglandin), keasaman, asma (adanya reaksi hipersensitivitas).
NSAID dapat memblok TxA2 sehingga bisa dipakai sebagai profilaksis thromboemboli.

E.     Penggunaan beberapa jenis obat NSAID
Aspirin (asam metilsalisilat atau acetosal) merupakan NSAID yang punya 3 efek yaitu: analgesik, antipiretik, dan anti-inflamasi. Efek toksik aspirin sering terjadi pada anak-anak (karena rasanya yang enak sehingga anak sering minta lagi). Efek toksiknya yaitu hipertermi, asidosis metabolik (sesak). Aspirin memiliki efek urikosurik (seperti probenecid, sulfinpirazone), artinya pada dosis tinggi meningkatkan asam urat di dalam urin. Namun tablet aspirin yang disediakan dosis 500mg sehingga tidak lazim untuk digunakan terapi asam urat karena butuh minum 10 tablet agar mencapai efek (dosis 5g per hari). Jadi, aspirin dosis antipiretik tidak bisa digunakan untuk terapi Gout Artritis karena pada kadar tersebut belum bisa meningkatkan ekskresi asam urat. Aspirin cocok digunakan pada pasien DM karena memiliki efek insulin like activity. Aspirin dapat meningkatkan sensitivitas reseptor insulin, sehingga dapat menimbulkan hipoglikemia.
Aspirin juga digunakan sebagai antiplatelet untuk terapi stroke. Aspirin bekerja dengan menghambat pembentukan tromboksan. Tromboksan merupakan senyawa yang berperan dalam pembekuan darah. Dengan dihambatnya tromboksan, maka terjadi hambatan pembekuan darah. Hambatan dalam proses pembekuan darah diharapkan dapat melancarkan aliran darah menuju otak yang tersumbat. Untuk terapi stroke, aspirin diberikan dalam dosis rendah (pada dosis rendah aspirin juga bisa menghambat trombus pada PJK). Hal ini dikarenakan pada pemberian dosis tinggi, aspirin berisiko menyebabkan terjadinya perdarahan yang tentunya akan memperparah kondisi pasien.
Perlu diingat, bahwa penggunaan aspirin bertujuan untuk mencegah terjadinya kekambuhan stroke akibat sumbatan aliran darah, karena itu harus diminum secara teratur walaupun pasien sudah dinyatakan sembuh dari stroke. Kepatuhan penggunaan obat pada penderita stroke sangat penting untuk mencegahnya terjadinya serangan stroke berulang. Aspirin bersifat hepatotoksik (sifatnya radikal bebas dan metabolit reaktif/toxic), jadi jika terjadi icterus harus segera dihentikan penggunaannya. Intoksikasi aspirin penanganannya dengan kumbah lambung, koreksi cairan elektrolit, alkalinisasi urin (bisa dengan Nabik). Aspirin kurang aman untuk ibu hamil karena ikatannya yang proteinnya yang kuat sehingga bisa menembus blood placenta barrier. Aspirin diabsorbsi per oral dengan cepat. Dengan topikal juga cepat (untuk salep counter irritant, dosis yang rendah memberikan rasa panas namun sifatnya sementara).
Diflunisal merupakan NSAID yang tidak mempunyai efek antipiretik. Efeknya lebih kecil daripada aspirin. Diflunisal dapat menimbulkan gangguan pendengaran. Obat ini 99% terikat protein sehingga harus diwaspadai menimbulkan interaksi dengan obat lain.
Paracetamol (acetaminophen) merupakan NSAID yang tidak mempunyai efek anti-inflamasi. Paracetamol sifatnya hepatotoksik, jadi sebaiknya dikombinasikan dengan gluthation untuk efek antioksidan. Jadi untuk antitode keracunan parasetamol bisa diberikan N-acetylcystein dan metionine. Efek hepatotoksik akan timbul setelah penggunaan jangka panjang disebabkan karena paracetamol membentuk reaktif yang dapat merusak sel hati. Sering juga terjadi kasus alergi (Steven Johnson Syndrome) untuk pengobatan ini sehingga perlu diwaspadai.
Dipiron (metampiron seperti antalgin dan novalgin) punya sifat hidrofilik. Metampiron masih digunakan di Indonesia sebagai NSAID. Namun di luar negeri sudah tidak digunakan karena adanya efek agranulocytosis dan depresi sumsum tulang yang sangat besar.
Phenylbutazone, NSAID yang efek anti-inflamasinya sangat kuat. Phenylbutazone tidak digunakan untuk analgesik dan antipiretik. Obat ini sering menyebabkan Stephen-Johnson syndrome. Penggunaannya dengan glibenclamid menimbulkan efek hipoglikemia.
Asam Mefenamat merupakan NSAID yang efek anti-inflamasinya rendah.
Diklofenak, NSAID yang terakumulasi di sinovial sehingga digunakan untuk terapi semua jenis arthritis.
Ibuprofen, NSAID yang efek sampingnya paling ringan dibandingkan semua NSAID yang lain.
Indometasin, NSAID yang kerjanya menghambat COX juga menghambat motilitas PMN. Obat ini bagus namun toksik sehingga dipakai jika sangat simptomatik.
Piroksikam, NSAID yang waktu paruhnya sangat lama (>45 jam).
Nabumeton, NSAID yang kerjanya selektif COX-2 dengan hambatan COX-1 yang minimal. Nabumeton merupakan prodrug.
Rofecoxib (Vioxx), NSAID yang efek iritasi GITnya rendah karena tidak menghambat COX-1 dan tidak bisa dipakai sebagai antithrombotik karena tidak mengubah fungsi platelet. Obat ini kontraindikasi untuk penderita hipertensi, PJK, dan stroke.
Colecoxib (Celebrex), NSAID selektif COX-2 inhibitor (seperti nimesulid, rofecoxib). Obat ini punya efek samping hipertensi, PJK, stroke.

F.     Golongan obat NSAID
1.      Gol. Indomethacine
v  Proses di dalam tubuh
Absorpsi di dalam tubuh cepat dan lengkap, metabolisme sebagian berada di hati, yang dieksresikan di dalam urine dan feses, waktu paruhnya 2-3 jam, memiliki anti inflamasi dan efek antipiretic yang merupakan obat penghilang sakit yang disebabkan oleh keradangan, dapat menyembuhkan rematik akut, gangguan pada tulang belakang dan asteoatristis.
v  Efek samping
ü  Reaksi gastrointrestianal: anorexia (kehilangan nafsu makan), vomting (mual), sakit abdominal, diare.
ü  Alergi: reaksi yang umumnya adalah alergi pada kulit dan dapat menyebabkan asma.

2.      Gol. Sulindac
Potensinya lebih lemah dari Indomethacine tetapi lebih kuat dari aspirin, dapat mengiritasi lambung, indikasinya sama dengan Indomethacine.
3.      Gol. Arylacetic Acid
Selain pada reaksi aspirin yang kurang baik juga dapat menyebabkan leucopenia thrombocytopenia, sebagian besar digunakan dalam terapi rematik dan reumatoid radang sendi, ostheoarthitis.
4.      Gol. Arylpropionic Acid
Digunakan untuk penyembuhan radang sendi reumatik dan ostheoarthitis, golongan ini adalah penghambat non selektif cox, sedikit menyebabkan gastrointestial, metabolismenya dihati dan di keluarkan di ginjal.
5.      Gol. Piroxicam
Efek mengobati lebih baik dari aspirin indomethacine dan naproxen, keuntungan utamanya yaitu waktu paruh lebih lama 36-45 jam
6.      Gol. Nimesulide
Jenis baru dari NSAID, penghambat COX-2 yang selektif, memiliki efek anti inflamasi yang kuat dan sedikit efek samping.

BAB III
P E N U T U P

A.    Kritik dan saran
Makalah Farmakologi NSAID ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun akan penulis terima dengan lapang dada. Perlu dilakukan penambahan materi dan sumber referensi untuk menunjang kelengkapan makalah ini sehingga data yang diperoleh lebih akurat.


3 komentar: